Kota Jambi: Pusat Budaya Melayu dan Gerbang Pariwisata Sumatra
JAMBI, LELEMUKU.COM - Kota Jambi adalah ibu kota Provinsi Jambi di Pulau Sumatra, terletak di tepi Sungai Batanghari yang terpanjang di pulau, dan menjadi pusat kebudayaan Melayu Jambi yang kaya akan warisan sejarah serta potensi pariwisata yang terus berkembang.
Sejak lama, wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Jambi telah menjadi tempat pertemuan peradaban. Pada tanggal 28 Mei 1401, menurut peraturan daerah setempat, kota ini merayakan hari jadinya yang berakar pada penemuan Tanah Pilih oleh Raja Jambi, Putri Selaras Pinang Masak bersama sepasang angsa, sebuah legenda yang menandai awal permukiman terorganisir di tepi Batanghari.
Pada abad ke-16, kota ini berfungsi sebagai ibukota Kesultanan Jambi dengan nama Tanah Pilih, dipimpin oleh Sultan Abdul Kahar. Kesultanan Melayu Jambi didirikan pada tahun 1460 oleh Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak, dan tetap eksis hingga dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1906. Selama masa kolonial, Jambi mengalami transformasi administratif, menjadi kotamadya pada 1946, kota besar pada 1956, dan resmi menjadi ibukota provinsi pada 1957.
Identitas budaya Jambi sangat dipengaruhi oleh warisan Melayu yang mengakar kuat. Julukan “Bumi Melayu Jambi” mencerminkan bahasa, adat, dan seni yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” menegaskan peran Islam dalam kehidupan sehari-hari, sementara musik tradisional seperti tari Zapin dan kuliner berbahan dasar ikan sungai menambah warna khas wilayah ini.
Wilayah Jambi Seberang, yang terpisah oleh Sungai Batanghari, menampilkan sisi lain dari identitas kota. Penduduknya, mayoritas keturunan Melayu Jambi, melestarikan tradisi keagamaan yang kuat, termasuk perayaan Maulid Nabi dan upacara adat yang menggabungkan unsur Arab, Persia, dan Turki. Keberadaan 11 kelurahan di Jambi Seberang menjadikan kawasan ini sebagai saksi hidup perjalanan panjang Islam di Sumatra.
Beberapa landmark menjadi simbol kebanggaan kota. Jembatan Gentala Arasy, satu-satunya jembatan pedestrian di atas Sungai Batanghari dengan kontur menyerupai huruf S, menghubungkan dua sisi kota dan menjadi latar foto wisatawan. Masjid Agung Al-Falah, berdiri megah di pusat kota, menampilkan arsitektur yang memadukan gaya Melayu klasik dengan sentuhan modern, sekaligus menjadi tempat ibadah utama bagi warga.
Dari perspektif timur, Jambi pernah menjadi titik persinggahan penting dalam jaringan perdagangan laut yang menghubungkan Maluku, Papua, dan kepulauan Nusa Tenggara. Pedagang Arab, Persia, dan Turki yang singgah di Batanghari meninggalkan jejak artefak dan tradisi yang masih dapat dilihat di pasar tradisional serta museum lokal. Hal ini menjadikan Jambi sebagai gerbang budaya antara Sumatra dan wilayah timur Indonesia.
Keindahan alam sekitar menambah daya tarik pariwisata. Rawa-rawa di sekitar aliran Batanghari, hutan dataran rendah, serta kedekatan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat menawarkan peluang ekowisata, trekking, dan observasi satwa liar. Wisata sungai dengan perahu tradisional memungkinkan pengunjung menyusuri jalur sejarah, sambil menikmati panorama perkampungan yang masih mempertahankan rumah panggung khas Melayu.
Sampai sekarang, upaya pelestarian budaya dan pengembangan infrastruktur pariwisata terus digalakkan oleh pemerintah kota dan komunitas lokal. Program revitalisasi kawasan Jambi Seberang, renovasi bangunan bersejarah, serta promosi kuliner khas seperti pempek batanghari dan gulai ikan, berupaya menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan menyeimbangkan modernisasi dan penghormatan terhadap warisan, Kota Jambi berpotensi menjadi contoh sinergi antara tradisi timur dan dinamika nasional (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri