Keanekaragaman Budaya dan Warisan Candi Muaro Jambi di Sengeti
SENGETI, LELEMUKU.COM - Sengeti merupakan ibukota Kabupaten Muaro Jambi, sebuah wilayah yang menyimpan jejak peradaban sejak lama dan menjadi pusat administrasi serta kebudayaan di provinsi Jambi. Keberadaan Sengeti penting karena menghubungkan kawasan pedalaman dengan kota Jambi, sekaligus menjadi gerbang bagi wisatawan yang ingin menyelami warisan arkeologi dan keanekaragaman sosial budaya setempat.
Kabupaten Muaro Jambi terbentuk melalui pemekaran dari Kabupaten Batang Hari berdasarkan UU Nomor 54 Tahun 1999, menandai perubahan struktural yang memperkuat identitas lokal. Sepanjang sejarah, wilayah ini menjadi saksi perdagangan rempah-rempah antara Sumatra dan kepulauan timur, sehingga menumbuhkan jaringan budaya yang melintasi laut dan darat.
Salah satu peninggalan paling menonjol adalah Kompleks Candi Muaro Jambi, yang dibangun pada masa Kerajaan Melayu pada abad ke-7 hingga ke-12. Candi-candi batu ini mencerminkan arsitektur Buddha yang dipengaruhi oleh gaya India, sekaligus menjadi bukti pertukaran spiritual antara Sumatra dan wilayah timur Indonesia, termasuk Sulawesi dan Maluku, pada masa lampau.
Secara demografis, Muaro Jambi menampilkan mozaik suku yang beragam. Mayoritas penduduk berasal dari suku Jambi, meliputi sub‑suku Batin, Penghulu, dan Pindah, sementara suku Jawa menjadi kelompok terbesar kedua. Keberagaman ini memperkaya tradisi lisan, tarian, serta kuliner, yang seringkali dipadukan dalam perayaan adat yang melibatkan elemen-elemen budaya timur seperti anyaman rotan dan musik gong.
Keberagaman agama juga menjadi ciri khas wilayah ini. Islam menjadi agama mayoritas dengan persentase lebih dari 94 %, namun komunitas Kristen, Buddha, Hindu, serta kepercayaan lokal hidup berdampingan dalam harmoni. Interaksi lintas agama ini tercermin dalam perayaan bersama, seperti Maulid Nabi yang dihadiri oleh warga non‑Muslim, serta festival budaya yang menampilkan musik gamelan dan tarian tradisional.
Geografi Muaro Jambi menambah nilai uniknya. Sekitar 10 % wilayahnya berupa rawa, memberikan habitat bagi flora dan fauna khas, sementara Danau Tangkas menawarkan panorama alam yang menenangkan. Rawa-rawa tersebut juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang mengandalkan perikanan tradisional, sekaligus menjadi lokasi ekowisata yang menarik bagi pengunjung yang ingin merasakan ekosistem alami Sumatra.
Dalam sektor pariwisata, Candi Muaro Jambi menjadi magnet utama, menarik peneliti serta wisatawan yang tertarik pada sejarah Buddha di Indonesia. Danau Tangkas dan Lubuk Penyengat melengkapi rangkaian destinasi dengan kegiatan perahu, trekking, dan observasi satwa. Pemerintah daerah secara berkelanjutan mengembangkan infrastruktur, termasuk jalur akses dari Sengeti ke situs-situs tersebut, sehingga mempermudah kunjungan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Hubungan antara Muaro Jambi dan wilayah timur Indonesia semakin kuat melalui program pertukaran budaya, seperti festival seni yang menampilkan tari-tarian Papua dan musik tradisional Maluku. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya kebudayaan lokal, tetapi juga menegaskan posisi Sumatra sebagai bagian integral dalam jaringan budaya maritim Nusantara yang melintasi selat‑selat.
Hingga kini, upaya pelestarian warisan budaya dan pengembangan pariwisata berkelanjutan menjadi agenda utama. Pemerintah Kabupaten, bersama komunitas adat, berkomitmen menjaga integritas situs arkeologi serta melestarikan tradisi lisan yang diwariskan oleh nenek moyang. Dengan sinergi antara Sengeti, kota Jambi, dan daerah‑daerah timur, Muaro Jambi terus berperan sebagai jembatan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri