Dharmasraya: Jejak Kerajaan Melayu yang Menyatu dengan Budaya Timur
PULAU PUNJUNG, LELEMUKU.COM - Dharmasraya adalah bekas ibu kota Kerajaan Malayapura yang terletak di wilayah Sumatra, dikenal sebagai pusat kebudayaan dan perdagangan sejak abad ke-11.
Setelah serangan Rajendra Chola I pada tahun 1025 melemahkan Kadatuan Sriwijaya, muncul dinasti baru yang disebut Wangsa Mauli. Dinasti ini mengambil alih peran Wangsa Sailendra dan menegaskan kembali pengaruh Melayu di Selat Malaka, menandai babak baru dalam sejarah maritim Indonesia.
Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand menjadi bukti tertua atas nama raja Mauli, sementara Prasasti Padang Roco tahun 1286 mencatat hadiah arca Amoghapasa dari Raja Kertanagara. Kedua prasasti menegaskan peran Dharmasraya sebagai pusat keagamaan Buddha dan titik pertemuan budaya antara Sumatra, Jawa, serta wilayah sekitarnya.
Daerah kekuasaan Dharmasraya meluas hingga 15 wilayah bawahan, mencakup wilayah yang kini menjadi Kamboja, Kelantan, Pahang, hingga Aceh. Jaringan ini menunjukkan bahwa perdagangan dan pertukaran budaya Dharmasraya tidak terbatas pada Sumatra, melainkan merambah ke Semenanjung Malaya dan bahkan ke kepulauan timur, termasuk jalur laut yang menghubungkan Maluku.
Istilah San-fo-tsi dalam catatan Tiongkok pada abad ke-13 tetap dipakai untuk menyebut Pulau Sumatra, meskipun kekuasaan Sriwijaya telah berakhir. Pada masa itu, San-fo-tsi menjadi sinonim bagi Dharmasraya, menandakan kontinuitas identitas maritim yang dipertahankan oleh para pendeta dan bangsawan setempat.
Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 memperkuat hubungan antara Jawa dan Sumatra. Utusan yang dipimpin Mahisa Anabrang membawa arca Amoghapasa ke Dharmasraya, sekaligus menumbuhkan ikatan pernikahan antara putri kerajaan Melayu dan raja Majapahit. Hubungan ini membuka jalur budaya yang kemudian mengalir ke wilayah timur, termasuk Maluku, melalui pertukaran barang, seni, dan tradisi lisan.
Saat ini, situs arkeologi Dharmasraya menarik wisatawan yang tertarik pada sejarah maritim Indonesia. Prasasti Grahi, arca Amoghapasa, dan reruntuhan istana menjadi magnet bagi pelancong yang ingin menyelami jejak peradaban lama. Festival budaya tahunan menampilkan tarian tradisional, musik gamelan, serta pameran kerajinan yang menggabungkan motif Sumatra dengan unsur seni Papua dan Maluku.
Koneksi laut antara Dharmasraya dan kepulauan timur tetap terasa melalui tradisi pelayaran tradisional yang masih dipraktikkan oleh suku-suku di Maluku dan Papua. Kapal layar besar yang berlayar dari Sumatra ke timur membawa barang dagangan, cerita, serta nilai-nilai keagamaan yang memperkaya kebudayaan setempat, menciptakan jaringan persaudaraan maritim yang melintasi pulau-pulau Indonesia.
Dengan upaya pelestarian situs bersejarah dan pengembangan ekowisata, Dharmasraya terus menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Indonesia. Hingga kini, warisan budaya ini menginspirasi generasi muda di seluruh nusantara, termasuk di Papua dan Maluku, untuk menjaga identitas bersama yang bersinergi dalam keragaman (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri