Sultan Baabullah: Penguasa 72 Pulau dan Penakluk Portugis di Maluku

Sultan Baabullah: Penguasa 72 Pulau dan Penakluk Portugis di Maluku

TERNATE, LELEMUKU.COM - Sultan Baabullah (10 Februari 1528 – Juli 1583) merupakan sultan ke‑7 dan penguasa ke‑24 Kesultanan Ternate yang memerintah antara tahun 1570 dan 1583. Ia dikenal dengan gelar “Penguasa 72 Pulau” karena wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Maluku, Sangihe, dan sebagian Sulawesi. Keberhasilannya mengusir Portugis dari Ternate menjadikan kesultanan tersebut puncak kejayaan perdagangan rempah pada akhir abad ke‑16.

Baabullah lahir sebagai putra tertua Sultan Khairun Jamil dan permaisuri Boki Tanjung, putri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sejak kecil ia menerima pendidikan agama Islam yang mendalam serta pelatihan militer dari para mubalig dan ahli perang. Pengalaman menemani ayahnya selama pengasingan di Goa (1545‑1546) memperluas wawasan politiknya, sementara peran aktifnya dalam pemerintahan mulai tampak ketika ia menandatangani perjanjian vasalisasi Ternate kepada Portugis pada tahun 1560.

Perjanjian 1560 menjadi bukti diplomasi awal Ternate, namun hubungan dengan Portugis semakin tegang ketika tentara Eropa memperlihatkan perilaku yang tidak disukai penduduk setempat. Pada tahun 1563 Kaicili Baab memimpin armada untuk mengepung desa Kristen Nusaniwi di Ambon, namun aksi tersebut dibatalkan oleh kedatangan tiga kapal Portugis. Konflik berlanjut hingga Portugis terpaksa meninggalkan Ambon pada 1564, meskipun mereka kembali pada 1569.

Setelah kematian Sultan Khairun pada 1570, Baabullah naik takhta dan segera melancarkan serangkaian kampanye melawan kehadiran Portugis. Pada tahun 1570 Kapten Diogo Lopes de Mesquita berusaha merekonsiliasi, namun Baabullah menolak mengakui otoritas Eropa dan memerintahkan penangkapan pasokan makanan yang penting bagi benteng Portugis di Ternate. Tekanan ekonomi ini memperlemah posisi Portugis dan membuka peluang bagi Ternate untuk memperkuat kontrol atas jalur laut Halmahera.

Keberanian Baabullah terlihat jelas ketika ia memimpin armada berjumlah lima belas kora‑kora dalam ekspedisi ke Filipina pada 1569. Meskipun armada tersebut beralih jalur ke Selat Melaka untuk melakukan aksi bajak laut, kehilangan sekitar 300 orang tidak menghentikan ambisi maritimnya. Selama masa pemerintahannya, Ternate berhasil menaklukkan wilayah utara Sulawesi, termasuk Solor, Bima, serta memperluas pengaruh hingga Mindanao dan Raja Ampat, menjadikan jaringan perdagangan rempah semakin luas.

Sebagai “Penguasa 72 Pulau”, Baabullah mengintegrasikan daerah‑daerah yang baru ditaklukkan ke dalam sistem administrasi Ternate, memfasilitasi pertukaran barang, budaya, dan ilmu pengetahuan. Kebijakan perdagangan bebas yang diterapkan pada masa pemerintahannya meningkatkan arus cengkeh, pala, dan hasil hutan ke pasar Asia, sekaligus memperkuat posisi Maluku sebagai pusat ekonomi maritim pada abad ke‑16.

Pengaruh Baabullah tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi, melainkan juga pada penyebaran Islam di wilayah timur Indonesia. Penaklukan dan aliansi militer membuka ruang bagi para mubalig untuk menyebarkan ajaran Islam, yang kemudian menjadi faktor penyatu budaya di antara pulau‑pulau yang beragam. Hingga kini, warisan spiritual dan politik Baabullah masih terasa dalam tradisi keagamaan serta identitas kolektif masyarakat Maluku.

Sejak lama, kisah Sultan Baabullah menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus di Indonesia timur. Situs‑situs bersejarah di Ternate, seperti benteng Kastela dan makam sultan, menarik wisatawan yang ingin memahami dinamika kekuasaan maritim pada masa lalu. Dengan menelusuri jejaknya, masyarakat modern dapat belajar tentang pentingnya kemandirian, diplomasi yang cermat, dan perlindungan sumber daya alam dalam menghadapi tantangan global. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya