Donald Trump Menjalani Operasi Penerbangan Rahasia Dari Turki Karena Ancaman Pembunuhan Iran Pada Juni 2026

JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menjalani operasi penerbangan rahasia saat meninggalkan Turki usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi NATO pada Juni 2026. Langkah pengamanan luar biasa ini dilakukan oleh otoritas keamanan Amerika Serikat setelah mendeteksi adanya ancaman pembunuhan yang dinilai sangat kredibel dari pihak Iran.

Laporan mengenai operasi penyamaran tersebut pertama kali diungkap oleh media The Washington Post pada Senin (10/8/2026). Dalam laporan itu disebutkan bahwa Gedung Putih sengaja memberikan kesan kepada publik bahwa Donald Trump meninggalkan Turki menggunakan pesawat kepresidenan utama Air Force One, padahal sang presiden dipindahkan secara diam-diam ke pesawat militer lain.

Donald Trump awalnya terlihat menaiki pesawat Boeing 747 lama di Bandara Ankara, Turki, di hadapan media. Namun, beberapa menit kemudian, ia bersama sejumlah penasihat senior dipindahkan secara rahasia menggunakan truk katering bandara bersistem hidrolik menuju pesawat militer Air Force C-32A yang berukuran lebih kecil.

Selama penerbangan menuju Inggris, pesawat Air Force C-32A yang membawa Donald Trump mematikan sistem pelacak penerbangan publik dan menggunakan tanda panggil Reach 18. Sementara itu, pesawat Boeing 747 lama tetap terbang dengan tanda panggil resmi Air Force One dan menyalakan radar sebagai pengecoh bagi publik dan media yang berada di dalamnya.

Setibanya di Pangkalan Udara RAF Mildenhall di Inggris, Donald Trump kembali ke pesawat lama untuk menyapa personel militer sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Washington menggunakan Boeing 747-8. Intelijen Amerika Serikat mendeteksi ancaman pembunuhan ini meningkat setelah adanya operasi militer terhadap Iran menyusul kebuntuan negosiasi kedua negara, terlebih posisi geografis Turki berbatasan langsung dengan Iran.

Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat mengerahkan seluruh kemampuan keamanan untuk menghadapi ancaman tersebut. "Ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap alat yang kami miliki untuk mengatasi ancaman tersebut," kata Steven Cheung.

Dalam penerbangan tersebut, para jurnalis di dalam pesawat pengecoh sempat diminta untuk menutup rapat tirai jendela pesawat. Ketika ditanyakan mengenai alasan dari tindakan pengamanan ketat tersebut, Donald Trump memberikan tanggapannya. "Anda mungkin berada dalam penerbangan yang berbahaya karena orang-orang licik yang harus kita hadapi," ujar Donald Trump.

Operasi penyamaran penerbangan presiden ini bukan pertama kali terjadi, karena pada tahun 2000 mantan Presiden Bill Clinton juga pernah diterbangkan secara rahasia dari Pakistan menggunakan jet tanpa tanda pengenal akibat ancaman dari al-Qaeda. Kasus ini menunjukkan bahwa keselamatan presiden Amerika Serikat tetap menjadi prioritas utama di tengah ketegangan internasional. (Olemah)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya