Presiden Trump akan Tentukan Langkah Perang Iran, Gencatan Senjata Terancam Bubar
WASHINGTON, LELEMUKU.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan darurat bersama tim keamanan nasionalnya di Gedung Putih, Senin (11/5/2026), untuk menentukan langkah selanjutnya dalam perang melawan Iran.
Langkah ini diambil setelah proposal perdamaian dari Teheran ditolak mentah-mentah oleh Washington, membuat gencatan senjata yang rapuh disebut-sebut "berada di ambang batas kehidupan" alias "on life support".
“Gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam dukungan kehidupan yang besar,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval sebelum memimpin rapat yang dihadiri oleh para pejabat senior, seperti Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, hingga Kepala CIA John Ratcliffe.
Sumber-sumber yang dikutip oleh Axios mengindikasikan bahwa Trump cenderung mengambil tindakan militer untuk menekan rezim Iran pasca-kebuntuan negosiasi.
"Dia akan sedikit menggebuk mereka," ujar satu pejabat AS, sementara pejabat lain berkata: "Saya pikir kita semua tahu ke mana arahnya".
Di antara opsi yang dipertimbangkan adalah melanjutkan operasi pengeboman terhadap target yang belum tersentuh atau kembali memulai misi pengawalan kapal dagang "Project Freedom" di Selat Hormuz.
Proposal Iran Dinilai 'Tidak Bertanggung Jawab'
Kebuntuan ini bermula ketika Teheran akhirnya memberikan jawaban tertulisnya melalui mediator Pakistan pada Minggu (10/5/2026) setelah Washington menunggu selama sepuluh hari.
Menurut laporan media, proposal balasan Iran dinilai tidak memenuhi tuntutan utama AS, khususnya terkait penghentian program nuklir. Teheran justru mengajukan syarat balasan berupa tuntutan penghentian total perang dan blokade laut di Selat Hormuz, pembebasan aset yang dibekukan, serta jaminan tidak akan adanya agresi lagi terhadap Iran.
Televisi Pemerintah Iran menyebut proposal AS yang lama merupakan bentuk "penyerahan diri", namun Trump telah memperingatkan bahwa jika diplomasi gagal untuk mencapai tujuannya, ia tidak akan ragu untuk mengebom infrastruktur Iran.
Pertarungan Sengit: 'Debu Nuklir' yang Diperebutkan
Trump juga mengklaim bahwa Iran pada awalnya setuju untuk merelakan stok uranium yang diperkayanya (yang ia sebut sebagai 'debu nuklir'), tetapi kemudian berubah pikiran. "Mereka setuju dua hari lalu, tapi mereka berubah pikiran karena mereka tidak menaruhnya di dalam kertas," kata Trump.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan CBS, menegaskan bahwa perang belum berakhir. "Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dikeluarkan dari Iran. Kami ingin mendapatkannya, entah damai atau tidak, kami akan mendapatkannya," tegas Netanyahu.
Sementara itu, Iran membantah klaim AS dan menyebut proposal yang mereka ajukan justru "masuk akal dan murah hati". Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, "Satu-satunya hal yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran".
Dengan Trump yang dijadwalkan bertolak ke China pada Rabu (13/5/2026), Washington diperkirakan tidak akan melancarkan serangan skala besar sebelum presiden kembali, namun gencatan senjata diprediksi akan semakin rapuh seiring meningkatnya frekuensi serangan pesawat nirawak di kawasan Teluk. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri