KNKT Selidiki Insiden Bekasi Timur: Masinis KA Argo Bromo Anggrek Sempat Mengerem 1,3 KM Sebelum Tabrakan
JAKARTA, LELEMUKU.COM – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan fakta terbaru terkait insiden kecelakaan maut yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, yang terjadi pada 27 April 2026 lalu. Berdasarkan rekaman data operasional, masinis KA Argo Bromo Anggrek diketahui telah melakukan tindakan pengereman pelan sekitar 1,3 kilometer sebelum benturan terjadi.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa langkah pengereman oleh masinis kereta api jarak jauh tersebut diambil sesaat setelah dirinya menerima pasokan informasi awal mengenai adanya temperan (tabrakan) kereta di jalur depan. Keterangan tersebut disampaikannya usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Jakarta, Kamis.
"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman," ungkap Soerjanto kepada awak media.
Batasan Komunikasi Suara dan Upaya Antisipasi
Berdasarkan hasil penelusuran awal KNKT, informasi mengenai adanya hambatan di perlintasan depan diteruskan oleh Pusat Pengendali Operasi (Pusdal) di Manggarai kepada masinis melalui saluran komunikasi suara. Akibat keterbatasan visual, petugas pengendali operasi di hilir tidak mengetahui secara rinci mengenai situasi riil di titik kejadian.
Oleh karena itu, Pusdal menginstruksikan masinis untuk segera mereduksi kecepatan kereta sebagai langkah preventif. Selain memperlambat laju lokomotif, masinis juga diminta intensif membunyikan Semboyan 35 atau klakson kereta api secara berulang kali sebagai sinyal peringatan bahaya guna meningkatkan kewaspadaan di sekitar area perlintasan.
"Cuman karena situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu riil sebenarnya karena komunikasinya kan lewat suara saja, lewat voice. Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia tidak tahu, cuman memberitahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit. Terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35," jelas Soerjanto menambahkan.
KNKT menilai masinis telah bersikap responsif dan menjalankan instruksi dari pusat pengendali operasi Manggarai sesuai dengan prosedur keselamatan pra-kecelakaan.
Investigasi Rampung Dua Hingga Tiga Bulan
Meski data pengereman telah dikantongi, KNKT menegaskan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan faktor utama penyebab kecelakaan kereta tersebut. Tim investigasi independen masih terus mengumpulkan, memverifikasi, serta mengolah seluruh variabel data pendukung guna menyusun kronologi peristiwa secara utuh dan komprehensif.
Kesimpulan akhir mengenai penyebab kecelakaan baru akan diterbitkan secara objektif setelah seluruh temuan di lapangan selesai dianalisis secara ilmiah. KNKT memproyeksikan proses investigasi menyeluruh ini akan memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan ke depan, dengan target melahirkan rekomendasi keselamatan guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
"Kita berharap kalau semuanya lancar, antara dua sampai tiga bulan mudah-mudahan bisa kita ambil kesimpulan penyebab kecelakaan," tutur Soerjanto.
Data Korban dan Sikap Kemenhub
Di lokasi yang sama, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyatakan kementeriannya tetap menghormati proses yang berjalan dan kini sedang menunggu hasil investigasi resmi dari KNKT.
Berdasarkan data pemutakhiran dampak insiden, kecelakaan hebat di Stasiun Bekasi Timur tersebut telah menelan total 124 korban. Dari jumlah tersebut, tingkat kelangsungan hidup atau persentase korban selamat mencapai sekitar 87,1 persen. Dari total korban yang ada, sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal dunia, yang berarti tingkat fatalitas berada di kisaran 12,9 persen. Sementara itu, 5 orang korban luka hingga kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, dan 103 orang korban selamat lainnya telah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Kementerian Perhubungan menegaskan akan langsung menindaklanjuti rekomendasi dari KNKT begitu hasil evaluasi total terhadap sistem komunikasi operasional kereta api ini diterbitkan secara resmi. (Elo)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
