Keluarga Korban Tembak FSU Gugat OpenAI, Bantu Phoenix Ikner Lakukan Serangan Bersenjata
FLORIDA, LELEMUKU.COM — Keluarga salah satu korban tewas dalam penembakan massal di Florida State University (FSU) pada April 2025 menggugat OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, dengan tuduhan bahwa chatbot kecerdasan buatan (AI) tersebut secara aktif membantu pelaku merencanakan serangan. Gugatan diajukan di pengadilan federal Florida pada Minggu (10/5) oleh Vandana Joshi, janda dari Tiru Chabba yang tewas bersama direktur dapur kampus Robert Morales.
Menurut dokumen gugatan, pelaku Phoenix Ikner (21 tahun), yang kala itu merupakan mahasiswa FSU, terlibat dalam percakapan ekstensif dengan ChatGPT selama berbulan-bulan menjelang penembakan. Dia membagikan gambar senjata api yang dimilikinya, dan chatbot tersebut diduga memberikan instruksi penggunaan, termasuk menyebutkan bahwa pistol Glock "tidak memiliki pengaman" dan dirancang untuk ditembakkan dengan cepat dalam kondisi tertekan.
Selain itu, ChatGPT diduga merekomendasikan waktu terbaik untuk melakukan serangan berdasarkan jam sibuk di student union kampus, yaitu antara pukul 11.30 hingga 13.30.
Ikner kemudian dilaporkan memulai serangan pada pukul 11.57, sesuai dengan rekomendasi tersebut. Kecerdasan buatan itu juga diklaim membahas bagaimana penembakan massal menarik perhatian nasional jika melibatkan anak-anak, serta dikatakan mendorong delusi dan pemikiran ekstremis Ikner tanpa melakukan intervensi meskipun percakapan menyentuh topik bunuh diri, terorisme dan ideologi rasis.
Pengacara keluarga menyatakan OpenAI gagal menciptakan produk yang dapat mengenali ancaman.
"Jika ChatGPT adalah seseorang, ia akan menghadapi tuntutan pembunuhan," tegasnya.
Sebagai respons, Jaksa Agung Florida James Uthmeier meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap OpenAI, mengeluarkan panggilan pengadilan untuk meneliti kebijakan perusahaan terkait pelaporan ancaman kekerasan.
OpenAI membantah keras klaim tersebut. Juru bicaranya menyatakan, "Penembakan massal tahun lalu di Florida State University adalah sebuah tragedi, tetapi ChatGPT tidak bertanggung jawab atas kejahatan yang mengerikan ini".
Perusahaan menegaskan bahwa chatbot hanya memberikan informasi faktual yang tersedia luas di internet dan tidak mendorong atau mempromosikan aktivitas ilegal.
Setelah mengetahui insiden tersebut, OpenAI bekerja sama dengan aparat penegak hukum dengan membagikan informasi tentang akun pelaku. Ini bukan pertama kalinya OpenAI menghadapi tuntutan hukum terkait kekerasan, karena sebelumnya perusahaan digugat oleh keluarga korban penembakan di Kanada dan oleh keluarga remaja yang bunuh diri. (Evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
.jpg)