Inflasi Papua dan Tiga DOB pada April 2026 Tetap Terjaga
JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) bulan April 2026 mencatat seluruh provinsi di wilayah kerja (wilker) Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua mengalami inflasi. Inflasi bulanan ini tetap terjaga seiring normalisasi permintaan pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, meski sedikit meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar avtur dan BBM non-subsidi serta belum masuknya periode panen raya lokal komoditas hortikultura.
Inflasi Provinsi Papua secara bulanan tercatat sebesar 0,98 persen (mtm), tahun berjalan 1,39 persen (ytd), dan tahunan 3,80 persen (yoy). Inflasi didorong oleh kenaikan harga ikan tuna, angkutan udara, dan tomat dengan andil masing-masing 0,46 persen, 0,32 persen, dan 0,13 persen. Sementara itu, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan buah pinang.
Di Provinsi Papua Selatan, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,94 persen (mtm), tahun berjalan 2,98 persen (ytd), dan tahunan 3,34 persen (yoy). Inflasi dipicu kenaikan harga angkutan udara, sawi hijau, dan kangkung. Sedangkan penurunan harga emas perhiasan, cabai merah, dan ikan mujair menjadi faktor penahan inflasi.
Provinsi Papua Tengah mengalami inflasi bulanan sebesar 0,21 persen (mtm), tahun berjalan 0,16 persen (ytd), dan tahunan 1,53 persen (yoy). Peningkatan harga bawang merah, tomat, dan angkutan udara menjadi penyumbang utama inflasi, sementara penurunan harga cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras menahan laju inflasi.
Sementara itu, Provinsi Papua Pegunungan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,77 persen (mtm), tahun berjalan 3,81 persen (ytd), dan tahunan 4,89 persen (yoy). Inflasi didorong oleh kenaikan harga angkutan udara, tomat, dan beras. Di sisi lain, penurunan harga ketela rambat, telur ayam ras, dan emas perhiasan menjadi faktor penahan inflasi.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan mitra strategis terus memperkuat pengendalian inflasi di Papua dan tiga Daerah Otonomi Baru (DOB) melalui empat langkah utama, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, Gerakan Pangan Murah (GPM) rutin dilaksanakan di Provinsi Papua dan tiga DOB bekerja sama dengan pemerintah daerah, Bulog, dan mitra terkait. Untuk mendukung ketersediaan pasokan dan distribusi, diberikan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani di Papua Tengah untuk komoditas aneka cabai dan hortikultura.
Selain itu, koordinasi dengan pelaku usaha dan instansi terkait terus dilakukan guna mengatasi hambatan distribusi. Sementara pada aspek komunikasi efektif, Bank Indonesia melaksanakan edukasi pengendalian inflasi melalui media sosial dan kegiatan literasi kepada mahasiswa di wilayah kerja KPw BI Provinsi Papua.
PLH Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar, menyampaikan bahwa sinergi dan kolaborasi seluruh pihak akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Papua dan wilayah DOB. (BI Papua)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri
