BI dan Kemenkeu Beli Rp123 Triliun SBN, Koordinasi Fiskal-Moneter Perkuat Rupiah

BI dan Kemenkeu Beli Rp123 Triliun SBN, Koordinasi Fiskal-Moneter Perkuat Rupiah

JAKARTA, LELEMUKU.COM – Dalam sejarah pengelolaan ekonomi Indonesia, koordinasi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan tidak pernah sepenting dan seerat sekarang. Strategi ketiga dari tujuh langkah penguatan Rupiah yang direstui Presiden Prabowo Subianto menempatkan sinergi fiskal-moneter sebagai salah satu pilar utama stabilisasi nilai tukar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa secara year-to-date hingga awal Mei 2026, BI telah membeli Surat Berharga Negara dari pasar sekunder senilai Rp123,1 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari koordinasi erat antara BI dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi negara sekaligus memberikan sinyal positif kepada pasar keuangan.

"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," kata Perry usai rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang turut hadir dalam rapat tersebut memperkuat pernyataan Perry dengan mengungkapkan bahwa pemerintah juga sedang mempersiapkan langkah diversifikasi pembiayaan yang lebih berani. Salah satunya adalah rencana penerbitan Panda bonds di Tiongkok dengan tingkat bunga yang lebih kompetitif dibandingkan obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bonds dalam Panda bonds di Cina dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan," ungkap Purbaya.

Koordinasi fiskal-moneter yang semakin erat ini mencerminkan pendekatan baru dalam pengelolaan ekonomi Indonesia, di mana bank sentral dan pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi bergerak dalam satu arah yang terkoordinasi. Dengan proyeksi inflasi yang tetap terkendali pada kisaran 2,5 persen plus minus satu persen dan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen sepanjang 2026, sinergi ini dinilai telah memberikan hasil yang nyata. (Evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya