3 Pelaut Indonesia Hilang di Selat Hormuz Pasca Serangan Rudal

3 Pelaut Indonesia Hilang di Selat Hormuz Pasca Serangan Rudal

JAKARTA, LELEMUKU.COM - Tiga pelaut asal Indonesia, termasuk seorang kapten berpengalaman Capt Miswar Maturusi, dinyatakan hilang setelah kapal tugboat Musaffah 2 yang mereka nahkodai diserang rudal dan tenggelam di Selat Hormuz pada Jumat dini hari, 6 Maret 2026.

Kapal Musaffah 2 (IMO 9522051), berbendera Uni Emirat Arab dan dioperasikan oleh Abu Dhabi Ports, sedang melakukan tugas salvage atau penyelamatan terhadap kapal kontainer Safeen Prestige (Malta-flagged, IMO 9593517) yang lebih dulu terkena serangan rudal dua hari sebelumnya. Saat mendekati lokasi, Musaffah 2 terkena dua rudal atau proyektil tak dikenal sekitar pukul 02.00 waktu setempat, 18 mil laut timur laut Khasab, Oman.

Ledakan hebat diikuti kebakaran membuat kapal cepat tenggelam. Dari total tujuh awak kapal (berbagai kewarganegaraan: Indonesia, India, Filipina), empat orang berhasil diselamatkan, termasuk satu WNI yang mengalami luka bakar dan sedang mendapat perawatan. Tiga awak Indonesia lainnya dinyatakan hilang, semuanya WNI, dengan Capt Miswar Maturusi sebagai nahkoda utama.

Capt Miswar Maturusi, warga Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, memiliki pengalaman berlayar lebih dari 26 tahun. Ia dikenal sebagai tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab dan sedang mempersiapkan masa pensiun untuk beralih menjadi dosen atau pengajar di bidang maritim.

Keluarga Capt Miswar di Luwu menyatakan pesan terakhir yang diterima istri dan anak hanya menunjukkan centang biru di aplikasi chatting tanpa balasan lanjutan. Hingga kini, keluarga belum menerima konfirmasi resmi dari Kementerian Luar Negeri RI atau perusahaan. Mereka terus menunggu kabar dan memohon doa agar ketiga pelaut yang hilang segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Insiden ini menjadi bagian dari eskalasi serangan maritim di Selat Hormuz yang mencapai lebih dari 10 kasus sejak akhir Februari 2026, di tengah konflik regional yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Investigasi sedang dilakukan oleh otoritas UAE, Oman, dan International Maritime Organization (IMO). Abu Dhabi Ports belum merilis pernyataan resmi mendetail.

Kronologi dari KBRI

KBRI Abu Dhabi sendiri menyatakan sudah memantau secara intensif perkembangan insiden ini pasca laporan yang diterima pada 7 Maret 2026 pukul 20.00 waktu setempat, KBRI Abu Dhabi telah menerima keterangan dari salah satu WNI yang selamat dengan inisial AEN, yang merupakan penumpang sekaligus engineer di kapal Musaffah 2.

Dari keterangan tersebut diketahui bahwa insiden bermula dari kapal kontainer Safeen Prestige yang mengalami kerusakan di perairan Oman dekat Selat Hormuz. 

Perusahaan Safeen Provider kemudian menugaskan kapal Musaffah 2 yang membawa 7 awak kapal dan 6 teknisi untuk melakukan pemeriksaan serta upaya perbaikan. Kapal Musaffah 2 berangkat dari Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab (UEA) pada 5 Maret 2026 sore hari dan tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal Safeen Prestige dinilai tidak dapat diperbaiki di lokasi karena tidak memiliki suplai listrik sehingga diputuskan untuk dilakukan penarikan (towing). 

Enam teknisi, termasuk AEN, kemudian naik ke kapal Safeen Prestige untuk membantu persiapan tersebut.

Sekitar pukul 02.00 dini hari pada 6 Maret 2026, saat proses persiapan penarikan hampir selesai, kapal Musaffah 2 dilaporkan mengalami ledakan yang menyebabkan kebakaran pada kapal, termasuk pada bagian anjungan. 

Penyebab pasti ledakan tersebut hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan oleh otoritas terkait. Dalam insiden tersebut, beberapa awak kapal berhasil selamat, termasuk satu WNI atas nama YRJ, sementara tiga WNI lainnya berinisial MP, SR, dan AS yang merupakan awak kapal Musaffah 2, hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Selain itu, terdapat satu warga negara asing yang juga dilaporkan hilang.

Saat ini KBRI Abu Dhabi terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk dengan KBRI Muscat dan otoritas setempat, guna memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penyebab insiden serta perkembangan proses pencarian korban. KBRI Abu Dhabi juga tengah memfasilitasi penanganan terhadap WNI yang menjadi korban selamat dan memastikan pemenuhan hak-hak dan perlindungan bagi WNI yang terdampak dalam insiden tersebut.

Memperhatikan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, KBRI Abu Dhabi kembali mengimbau seluruh WNI di wilayah UEA, termasuk ABK WNI yang bekerja di kapal laut, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat. 

WNI juga diimbau untuk melakukan lapor diri guna memastikan respons cepat dan tepat dari Perwakilan RI. Dalam keadaan darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Abu Dhabi di nomor +971566156259. (Albert)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya